Selasa, 01 Mei 2018

Pengertian Skimming

Unknown

Skimming adalah kejahatan dengan menggandakan informasi dalam pita magnetik yang terdapat pada kartu atau debit maupun Automated Teller Machine (ATM) secara ilegal. 

Skimming adalah pencurian data nasabah melalui kartu ATM. Skimming adalah pencurian informasi seperti nomor PIN dan akun nasabah melalui mesin ATM.

Kasus skimming kartu ATM menjadi hot issue dalam sepekan terakhir , sejak ribuan nasabah PT. Bank Mandiri Tbk dan BRI menjadi korban.

Menurut pakar keamanan, Robert Siciliano, skimming bukan lagi hal baru karena telah ada sejak 10 tahun yang lalu. 

Hal yang berubah adalah teknologi yang digunakan penjahat menjadi lebih baik setiap tahunnya. Karena itu konsumen diimbau untuk selalu berhati-hati.

Pada dasarnya, pelaku skimming ATM menggunakan dua perangkat untuk mengetahui PIN dan data kartu. Satu perangkat diletakkan di dekat Anda memasukkan kartu ATM, kemudian membaca garis magnetik dan nomor akun. Selain itu biasanya juga terdapat kamera tersembunyi untuk mengetahui PIN.

"Penjahat bisa mendapatkan data secara real time. Mereka bisa saja berada di dalam mobil dengan laptop untuk mengakses perangkat tersebut," jelas Siciliano.

Undang Undang Skimming

Unknown




 Pasal 30 UU ITE tahun 2008 ayat 3 : Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum mengakses computer dan/atau system elektronik dengan cara apapun dengan melanggar, menerobos, melampaui, atau menjebol system pengaman (cracking, hacking, illegal access). Ancaman pidana pasal 46 ayat 3 setiap orang yang memebuhi unsure sebagaimana dimaksud dalam pasal 30 ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) dan/atau denda paling banyak Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah).




Ketika Kejahatan "Skimming" Hantui Nasabah Bank

Unknown




Kompas.com - 19/03/2018, 08:09 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa waktu lalu terjadi pembobolan dana sejumlah nasabah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk di Kediri, Jawa Timur. Saldo pada tabungan mereka raib dengan besaran yang bervariasi, bahkan ada yang kehilangan hingga Rp 10 juta. Pembobolan dana nasabah tersebut ternyata merupakan kejahatan perbankan dengan metode skimming dan pencairan dananya dilakukan di luar negeri. Metode skimming adalah pencurian data nasabah pada kartu debit dengan memasang perangkat skimmer pada mesin anjungan tunai mandiri (ATM). Ahli forensik digital Ruby Alamsyah beberapa waktu lalu menjelaskan, metode skimming sudah biasa digunakan untuk membobol ATM. Caranya dengan memasang alat yang bisa menyalin nomor kartu ATM nasabah serta kamera pengintai PIN Pad di mesin penarik uang. Pelaku yang sudah mendapatkan nomor kartu dan rekaman PIN kemudian mencocokkannya dengan melihat log waktu pencatatan. Dari situ, kemudian pelaku bisa memasukkan nomor serta PIN ke kartu ATM kosong dan memakainya untuk mengambil uang.
           
Pembobolan dana nasabah dengan menggunakan metode ini pun sudah beberapa kali terjadi di Indonesia. Pada tahun 2016 lalu, misalnya, sebanyak 50 orang nasabah BRI di Mataram, Nusa Tenggara Barat yang menjadi korbannya. Tahun lalu, kejahatan serupa terjadi di Lovina, Buleleng, Bali terhadap nasabah PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Pelakunya adalah sindikat dari Bulgaria. Untuk kasus yang terjadi pada nasabah BRI ini, para pelaku pun telah ditangkap, beberapa di antaranya adalah warga negara asing (WNA).






         Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono mengatakan, penangkapan komplotan ini dilakukan setelah polisi melakukan penelusuran selama satu minggu. "Lima orang ini ditangkap di sejumlah lokasi berbeda. Ada di D' Park Cluster Kayu Putih Blok AB 6 No 3, Serpong, Tanggerang; di Hotel Grand Serpong, Tangerang¡ dan Hotel De’ Max, Lombok tengah, Nusa Tenggara Barat," ujar Argo. Argo menyebut, lima anggota komplotan bernama Caitanovici Andrean Stepan, Raul Kalai, Ionel Robert Lupu, Ferenc Hugyec, dan Milah Karmilah. BRI pun telah menyatakan bakal mengganti dana nasabah yang hilang apabila terbukti terjadi kejahatan skimming. Bank Indonesia (BI) pun telah meminta BRI untuk meningkatkan keamanan terkait kartu dan mesin ATM. Deputi Gubernur BI Erwin Rijanto akhir pekan lalu menyatakan, BRI harus mempercepat migrasi kartu debit dari teknologi pita magnetik (magnetic stripe) ke teknologi cip. Alasannya, teknologi cip lebih aman dan menurunkan risiko kejahatan seperti dengan metode skimming. "Yang di-skimming kartu kartu debit yang menggunakan magnetic stripe. Secara ketentuan untuk saldo di bawah Rp 5 juta juga masih gunakan magnetic stripe, makanya BRI harus percepat migrasi ke cip," sebut Erwin.
           
          Bank Indonesia sendiri menargetkan pada 2021 semua kartu sudah menggunakan teknologi cip. Adapun target tersebut diatur dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 17/52/DKSP tanggal 30 Desember 2015 tentang Implementasi Standar Nasional Teknologi Cip Kartu ATM/Debit. Landasan hukum surat edaran itu adalah Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 14/2/PBI/2012 tentang National Standard Indonesian Chip Card Specification (NSICCS). Penerapan NSICCS pada kartu ATM atau debit memiliki tujuan utama untuk meningkatkan keamanan bertransaksi menggunakan kartu ATM dan/atau kartu. Bank sentral menerapkan batas waktu 31 Desember 2018 berupa implementasi 30 persen kartu ATM dan/atau kartu debit yang beredar telah menggunakan teknologi cip dan PIN online 6 digit. Adapun batas waktu 31 Desember 2019 adalah implementasi 50 persen. kartu ATM dan atau kartu Debit yang beredar telah menggunakan teknologi cip dan PIN online 6 digit. Kemudian, batas waktu 31 Desember 2020 adalah mplementasi 80 persen kartu ATM dan atau kartu Debit yang beredar telah menggunakan teknologi cip dan PIN online 6 digit. Akhirnya, batas waktu 31 Desember 2021, implementasi 100 persen kartu ATM dan atau kartu debit yang beredar telah menggunakan teknologi cip dan PIN online 6 digit. Nasabah pun diminta segera menghubungi bank penerbit untuk mengganti kartu debitnya yang masih menggunakan pita magnetik ke kartu yang dilengkapi cip. PT Bank Central Asia Tbk, misalnya, telah menerapkan kebijakan membebaskan biaya penggantian kartu menjadi kartu cip.


Selain di BRI Kediri, Kasus Skimming Juga Menimpa Nasabah Bank Mandiri di Surabaya

Unknown





Selasa, 20 Maret 2018 07:37 WIB

Laporan Reporter Kontan, Galvan Yudistira

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selain PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), bank pemerintah lain yaitu PT Bank Mandiri Tbk juga terkena kasus skimming.

Skimming merupakan tindakan pencurian informasi kartu debit dan kredit dengan cara menyalin informasi yang terdapat ada strip magnetik kartu secara ilegal.

Jawa Pos, Senin (19/3/2018) melansir, di Surabaya puluhan nasabah ramai-ramai mendatangi kantor Bank Mandiri KCP Surabaya Graha Pena, Senin (19/3/2018).

Mereka mengurus pemblokiran rekening lantaran saldo mereka terkuras secara misterius.

Beberapa nasabah tersebut mengaku kehilangan dana mulai dari Rp 178.000, Rp 700.000, Rp 2 juta, hingga ada mencapai Rp 5 juta.

Bank Mandiri mengaku sudah menyelesaikan masalah dengan cepat terkait dugaan skimming ini.

"Kami sudah ganti uangnya," kata Rico Usthavia Frans, Direktur Digital Banking dan Teknologi Bank Mandiri , Selasa (20/3/2018).


Rico mengatakan jumlah korban dan kerugian dalam kasus skimming ini tidak banyak. Bank Mandiri mengaku siap mengganti uang tiga orang nasabah yang menjadi korban dugaan skimming ini.

Sementara ini, Bank Mandiri akan melakukan pemblokiran sementara di kartu ATM yang digunakan di mesin yang terindikasi skimming. Hal ini untuk meminimalisir risiko hilangnya uang nasabah dalam jumlah lebih besar.

Bank juga melakukan pemeriksanaan di mesin ATM yang diduga dipasang alat skimming. Sementara, bank akan mematikan operasional mesin-mesin ATM tersebut.



Sumber : http://www.tribunnews.com/bisnis/2018/03/20/selain-di-bri-kediri-kasus-skimming-juga-menimpa-nasabah-bank-mandiri-di-surabaya

Kasus Skimming Juga Terjadi di Surabaya, Saldo Nasabah Raib

Unknown


SENIN, 19 MAR 2018 14:38

JawaPos.com - Teror raibnya saldo nasabah secara misterius belum berakhir. Setelah di Kediri pekan lalu, sejumlah nasabah Bank Mandiri di Surabaya harus merasakan getirnya berkurangnya saldo mereka secara misterius. LDW dan IPH mendapati saldonya berkurang jutaan rupiah kemarin (18/3).

         Raibnya saldo secara misterius itu terjadi secara beruntun pada Sabtu (17/3). LDW total kehilangan lebih dari Rp 2,9 juta Dalam mutasi rekening, terlihat uang sejumlah itu ditarik empat kali. Mulai Rp 5.000 sampai Rp 1.789.780,15.

      "Saya mendapati saldo saya berkurang tadi siang (kemarin, Red),'' kata LDW kepada Jawa Pos. ''Padahal, kali terakhir saya menggunakan rekening itu pada 12 Maret lalu,'' lanjutnya







Setiap transaksi rekening LDW juga diikuti charge senilai Rp 20.000. Karena itu, ada anggapan penarikan dilakukan di luar negeri.
Sementara itu, IPH sempat menelepon customer service Bank Mandiri saat mendapati saldo di rekeningnya berkurang. ''Dijelaskan oleh petugas bernama Gerry bahwa saldo itu berkurang karena transaksi dari Malaysia. Padahal, saya di Surabaya,'' ungkapnya.
Selain berkurangnya saldo, ada nasabah yang tiba-tiba kartu ATM-nya terblokir. Di antaranya adalah AGS dan AGK. Tadi malam mereka menelepon ke call center Bank Mandiri untuk mendapat penjelasan.
"Call center bilang kartu saya terblokir karena ada percobaan skimming dari Malaysia,'' kata AGS.
AGK pun berusaha meminta penjelasan kepada call center Bank Mandiri. Sayang, dia tidak bisa mendapat penjelasan ke­napa kartu ATM-nya tiba-tiba diblokir. Customer service bernama Iksan hanya menyatakan kartu ATM AGK diblokir tanpa penjelasan sama sekali. "Iksan hanya bilang saya diminta ke kantor Bank Mandiri terdekat besok," kata AGK. "Merepotkan. Saya besok sudah banyak urusan yang harus diselesaikan," keluhnya.
Tidak hanya di Surabaya, saldo seorang warga Kediri juga berkurang di Bank Mandiri. Menyusul sejumlah nasabah Bank BRI di Kediri yang pekan lalu kehilangan saldo.
Corporate Secretary PT Bank Mandiri Tbk Rohan Hafas belum bisa memberikan penjelasan detail terkait kasus tersebut. Pihaknya akan melakukan identifikasi terlebih dahulu, apakah hal itu terkait skimming atau tidak. Jika kejadian itu terbukti merupakan skimming, Bank Mandiri perlu membuktikan terlebih dahulu dari ATM bank mana data nasabah tersebut dicuri. Apakah dari ATM Bank Mandiri atau bukan.
"Identifikasinya 1 hingga 2 hari. Sebab, kartu itu kan bisa ditransaksikan di ATM bank mana saja, tidak harus di ATM Bank Mandiri," kata Rohan.
Terkait saldo LDW yang menghilang sekitar Rp 2,9 juta, Rohan menyebut transaksi berasal dari mesin electronic data capture (EDC). Itu terlihat dari penjelasan transaksinya. Rohan mengatakan bisa jadi itu adalah skimming. "Diduga skimming, tapi masih butuh pembuktian dulu," lanjutnya.
Jika semua nasabah tersebut terbukti menjadi korban skimming, Bank Mandiri akan segera mengganti uang yang hilang kepada nasabah. Namun, sejauh ini Rohan yakin Bank Mandiri tidak kebobolan soal keamanan data nasabah.
Ketua Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi meminta bank dan pemerintah segera mengganti dana masyarakat yang hilang. Nasabah menjadi pihak yang sangat dirugikan karena peristiwa itu. Meski dana dikembalikan, mereka harus repot-repot mengurus ke bank.
"OJK (Otoritas Jasa Keuangan) harus melakukan audit terhadap sistem perbankan di Indonesia, termasuk BRI. Seringnya kasus serupa terjadi menunjukkan sistem TI perbankan di Indonesia lemah. Hal ini sangat membahayakan bagi perlindungan konsumen dan sektor perbankan itu sendiri," tegas dia.
Tidak Sulit asal Mau
Rentetan kasus pembobolan rekening nasabah bank di Indonesia belakangan menunjukkan adanya celah pada sistem perbankan kita. Auditor informasi dan teknologi dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Yanto Sugiharto menyatakan, bank-bank yang ada di Indonesia rata-rata masih berada pada tingkat keamanan level 5. Dari yang tertinggi level 8.
"Meningkatkan level keamanan itu tidak sulit, asalkan banknya mau," katanya kepada Jawa Pos kemarin (18/3).
Berdasar pengalamannya melakukan berbagai audit sistem di berbagai bank, ada beberapa kelemahan dalam sistem peng­amanan data di bank. Misalnya, bank-bank di Indonesia sangat bergantung pada pihak ketiga sebagai penyedia jasa peng­amanan data.
Banyak peran seperti penyediaan alat, sampai mempekerjakan staf TI, diserahkan kepada vendor. "Nah, kalau pengamanan saja diberikan ke pihak ketiga, tentu lebih berisiko," katanya.
Saat terjadi kasus kebocoran data, kata Yanto, untuk mengungkapnya, diperlukan seperangkat alat yang tidak murah. Bank juga kadang enggan menyediakan alat tersebut. "Karena itu, biasanya pengungkapan diserahkan kepada Bareskrim," katanya.
Selanjutnya adalah urusan protokol keamanan sendiri. Menurut Yanto, ada beberapa bank yang membiarkan begitu saja orang keluar masuk pusat data mereka dengan leluasa. Padahal, seharusnya yang boleh masuk ke ruang pusat data hanya mereka yang punya akses dan kemampuan khusus yang tersertifikasi.
Di Indonesia saat ini belum ada sertifikasi ahli keamanan data dan informasi. "Kawan-kawan kami biasanya ambil ser­tifikat di Singapura," kata anggota Asosiasi Auditor Teknologi Informasi itu.
Secara terpisah, peneliti keamanan siber dari CISSREC Ibnu Dwi Cahyo menuturkan bahwa dunia perbankan di Indonesia memang cukup rawan menjadi sasaran aksi skimming (pencurian data). Apalagi, berdasar data yang diperoleh dari kepolisian Uni Eropa, Indonesia menjadi peringkat ketujuh lokasi favorit para pelaku skimming. Dalam laporan tersebut, Indonesia dan Bali dibedakan.
"Bali menurut Europol (kepolisian Uni Eropa) menjadi lokasi ketiga terfavorit para pelaku skimming ATM," ujar dia kepada Jawa Pos kemarin.
Ibnu mengungkapkan, pada 2015 ada 5.500 kasus skimming ATM di dunia. Sebanyak 1.549 kasus di antaranya terjadi di Indonesia. Artinya, lebih dari sepertiga kejahatan skimming ada di Indonesia. Salah satu contohnya, pada 2017 dua warga Bulgaria ditangkap di Bali karena melakukan aksi skimming.
"Fakta tersebut seharusnya mendorong perbankan di tanah air untuk meningkatkan standar keamanan ATM. Baik dari operating systemhardware, sampai pada pengamanan fisik," tutur dia.
Soal pengamanan fisik seperti mesin ATM, Ibnu menilai aksi kejahatan tersebut lebih banyak dilakukan di daerah. Sebab, pengawasan lebih longgar. Selain itu, masyarakat di daerah belum terlalu mengerti tentang skimming dan peralatan yang dipakai. "Kalau pencuri sudah ngincer ATM di pinggiran yang sepi, memang relatif susah dikontrol," katanya.
Terkait dengan sistem, Ibnu menjelaskan bahwa penyerangan operating system itu bisa sangat berbahaya. Dia mencontohkan kasus yang terjadi di bank sentral Bangladesh pada 2016. Gara-gara aksi peretasan, diduga uang USD 81 miliar dipindahkan ke rekening lain oleh peretas. Berkaca pada kasus tersebut, dia berharap bank sentral dan bank pelat merah bisa lebih waspada.
"Mandiri dan BRI bank terbesar tanah air. Risikonya jauh lebih besar jaringannya sampai daerah. Apalagi, BRI ATM-nya sangat banyak dan sampai ke pelosok," ungkap dia. 

Kasus Skimming, Uang Nasabah Ini yang Hilang Diganti BRI

Unknown




Minggu, 18 Maret 2018 18:32 WIB

TEMPO.CO, Jakarta - Nasabah Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang Departemen Kehutanan, Jakarta Yuni Rismelia Buntang mengatakan BRI sudah mengembalikan uangnya yang sempat hilang. Dia mengatakan BRI membenarkan hilangnya uang dia akibat skimming. “Saya menghargai tanggung jawab BRI atas kasus ini,” kata dia kepada Tempo, 18 Maret 2018. 
Yuni menuturkan BRI mengembalikan seluruh uangnya Rp 5,2 juta pada 16 Maret 2018. Yuni mengatakan kabar tersebut dia dapat saat dia menghubungi call center BRI. Kemudian, dia juga mendapatkan laporan lewat SMS soal dikembalikan uangnya.
Sebelumnya, saldo dari rekening tabungan BRI Yuni berkurang pada Sabtu, 17 Februari 2018, pukul 19.00, dia mendapatkan SMS notifikasi transaksi sebanyak tiga kali dari BRI. Padahal, menurut Yuni, ia tidak melakukan transaksi apa pun saat itu. “Enggak sampe satu menit langsung ludes Rp 5,2 juta,” kata dia, Selasa, 13 Maret 2018.
Atas kejadian itu, Corporate Secretary BRI Bambang Tribaroto ketika dihubungi Tempo, mengatakan akan mengganti seluruh kerugian nasabah jika terbukti kehilangan saldo tersebut akibat skimming. “BRI akan bertanggung jawab penuh terhadap kerugian nasabah, apabila hasil investigasi menunjukkan terbukti skimming,” ujar dia.

Bambang mengatakan BRI sudah mengambil tindakan preventif dalam teknologi dan kebijakan untuk mengamankan uang nasabah. Dia juga mengimbau, agar para nasabah mengganti pin secara berkala, sehingga rekeningnya tidak mudah untuk diretas.




Kasus Pembobolan Saldo Bank BRI Dialami Nasabah Cimahi

Unknown



KEJAHATAN pembobolan saldo tabungan nasabah Bank BRI dengan metode 'skimming' atau menggandakan identitas pemilik ketika menarik saldo melalui ATM akhirnya terjadi di wilayah Cimahi.
Seperti diketahui, belakangan masyarakat, terutama nasabah Bank BRI dibuat cemas dengan skimming yang menimpa beberapa nasabah di berbagai daerah. Rata-rata, para nasabah yang menjadi korban kehilangan saldo hingga lebih dari Rp 2 juta.
Tresna Pamungkas (32), warga Cimahi juga merupakan salah satu wartawan televisi nasional, menjadi seorang korban skimming. Tresna mengaku sebelum saldonya raib, ia mendapat tiga pesan singkat dari BRI, yakni pukul 20.24, pukul 20.25 wib, dan pukul 20.25 wib pada hari Minggu (25/3/2018).
"Saya dapat tiga kali pesan pemberitahuan, yang pertama dan kedua penarikan Rp 1.250.000 dan kedua Rp 2.500.000. Saya langsung coba cek ke atm dan ternyata benar uangnya hilang," katanya saat ditemui di Kantor DPRD Kota Cimahi, Senin (26/3/2018).
Total, Tresna mengaku kehilangan uang di tabungannua senilai Rp 5 juta. Ia berniat melaporkan kejadian skimming yang menimpanya langsung ke pihak BRI pada Selasa mendatang.
"Pasti mau laporan ke BRI langsung. Nanti pasti saya akan ganti kartu ATM atau kalau perlu pindah bank juga untuk menjaga keamanan keuangan saya. Kalau perlu ya nanti membuat laporan kepolisian juga," jelasnya.
Kasus seperti yang dialami Tresna ini bukan menjadi hal yang utama, sebab kasus ini telah banyak terjadi di berbagai
Nasabah Bank BRI juga dibuat galau karena tidak bisa melakukan pengecekan saldo pascapemblokiran yang dilakukan oleh pihak BRI.
Imbasnya, Ribuan nasabah Bank BRI Cabang Cimahi dibuat was-was dan memadati bank yang berada di jalan Jend. Amir Machmud, Kota Cimahi, untuk melakukan penggantian kartu dan membuka blokir ATM-nya.


Cara Mencegah Skimming

Unknown




1. Hati-hati saat menekan PIN

Meski tidak ada orang lain saat berada di ATM, Anda tetap harus selalu waspada. Kamera tersembunyi bisa saja sedang memantau aktivitas, termasuk mengetahui password Anda.

Karena itu, saat menekan PIN ATM, Anda harus menutupnya dengan tangan. Hal ini bisa mencegah pencuri mengetahui PIN Anda.

2. Perhatikan lokasi ATM

Hindari menggunakan ATM di daerah redup dan malam hari. Hindari ATM di toko-toko ritel atau restoran, hal ini karena perangkat skimming pernah ditemukan di ATM yang berada di sebuah toko populer di Florida.

Selain itu, ATM di bandara juga rentan terhadap aksi pencurian. ATM yang berada di luar Bank juga menjadi target pencuri. Sebaiknya juga jangan terlalu sering ke ATM. "Semakin sering ke ATM, maka akan ada resiko," kata Siciliano.

3. Periksa saldo rekening secara teratur

Anda harus memeriksa saldo rekening secara teratur. Dengan begitu Anda bisa segera mengetahui jika ada transaksi penarikan uang yang aneh. 

Pengguna kartu kredit biasanya lebih mudah mengetahui bahwa telah menjadi korban kejahatan. Karena tagihan kartu kredit biasanya selalu dikirimkan secara teratur.

4. Perhatikan kondisi ATM

Anda harus memperhatikan dengan seksama ATM untuk memastikan keaslian slot kartu dan bukan tempelan. Terutama ketika sejumlah orang merasakan keanehan ketika memasukkan kartu ke ATM.

"Ini semua tentang kesadaran, memperhatikan, dan memahami resiko, karena semua ATM rentan terhadap penipuan," ungkap Siciliano.

Tips Menghindari Skimming Kartu ATM Bank Lainnya

  1. Berhati-hati dalam melakukan transaksi lewat ATM ketika menekan pin. Karena, pelaku kadang memasang kamera tersembunyi di mesin ATM untuk mengetahui password korban.
  2. Hindari menggunakan ATM di tempat yang redup atau sepi. Karena pelaku mudah memasang alat Skimming di tempat pengawasan yang lemah.
  3. Selalu memeriksa saldo rekening secara teratur. Apabila, ada penarikan uang yang aneh segera laporkan ke pihak Bank. 
  4. Jangan terlalu sering mengakses akun bank pribadi, jika terlalu sering maka semakin rentan dibobol. 
  5. Daftarkan di Bank setiap transaksi menggunakan dua jenis otentikasi.

Coprights @ 2018, Blogger Templates Designed Apid | AKMJ